Dia selalu percaya, hanya dengan mengatupkan matanya jejak
air mata itu akan hilang. Namun nyatanya angin musim kemarau tidak pula
berhasil mengeringkan luapannya. Di siang yang menyengat, ia mengubur diri
diantara sesak-sesak pasar Tangga Arung yang berkeringat. Berkutat dengan mesin
jahit, serta leher dengan meter yang dililit. Sesekali mendelik, menyumpahi bau
busuk baju pelanggan yang tidak dicuci. Dia selalu percaya, alam sadarnya akan
disibukkan dengan bau busuk dan lelah disekujur badan.
Pada malam yang dipenuhi lampu kota, ia membaur bersama riuh
rendah pasar malam yang sudah seperti kawanan lebah siap perang. Berdiri di
depan minyak penggorengan pisang, sesekali berteriak menjajalkan gorengan pada
orang yang lalu lalang. Tubuh tetap dibanjur keringat, walau angin malam
menghantam pundak. Pandangannya tertumbuk pada siraman lampu jalan. Apa gunanya
keramaian, jika kesepiannya selalu berulang?
Disisa-sisa malam, ia mencoba untuk beristirahat. Kata
orang, lelah akan membuatnya lupa. Namun bayangan ibu masih saja berkelebatan. Samar
namun tak kunjung memudar.
Dulu ibu selalu bertanya, apa mimpinya? Ia selalu menjawab,
masih ada waktu memikirkannya. sekarang ia tahu jawabannya. Tapi kenapa ibu
malah pergi meninggalkannya? Ia ingin kembali pada mula. menyambut ibu ketika
pulang.
(Pasar
Tangga Arung, Tenggarong 24 Agustus 2018)
Kalau saja blog ini bisa bicara, segala rupa racauan pasti diucapkan.
Kalau saja blog ini punya perasaan, sudah pasti marah memerah karena yang punya hanya datang sekedar meluapkan rasa gundah hahaha.
Ketika hati meloncat-loncat karena bahagia, rasanya kurang pas kalo tidak diupload di instagram hehehe.
Tapi yaa mau diapa, saya merasa setuju dengan pernyataan mba Hana, biarkan yang bahagia itu terlihat dan yang gundah itu terbaca.
Saya sendiri juga bingung, tulisan-tulisan ini tercipta hanya disaat sedih bergelantung.
Jadi jangan heran, jika blog ini isinya penuh curhatan wkwk.
Karena saya orangnya tidak enakan, biarkan saya meminta maaf, pada blog yang merasa diduakan.
Maaf karena hanya datang setelah lelah menebar senyum di instagram.
Pada akhirnya disini tempat saya pulang.
Summer is about to end, Autumn is on its way.
Her 20th is about to end, what did she do in her 365 days?
Her last teen age is on its way,
yet she still has no idea about life crisis these days.
She doesn’t even know how to “chit-chat bla-bla” over the phone,
let alone knowing about the world main problem.
Her 20th is about to end,
Yet, She hasn’t done the to do lists she makes before died.
Age is just a number, they said.
You got plenty of time, they said.
Adulthood is creepy,
it comes to our life without “knock-knock, it’s me”.
She will soon be 22
Thinking about how can she repaid her parents for all the hardwork
She will soon be 33
Thinking about how can she help her husband to pay the bills
She will soon be 44
Thinking about how can she teach her little ones about the world
She will soon be 55
Be 66
And when it’s late
She realized, She hasn’t done the to do lists she makes before she
died.
21 is her last teen age.
May she has a blessed year ahead
And start doing those to do lists she wrote on her 16th birthday.
Once upon a time there was this girl who is anxious about centimental things. She once thought, in order to have a true friendship with
someone, both should really have commitment to only befriend for each other. She
once thought, she can only be best friend to someone that has a mutual feeling
towards her too. People came by, she is nothing but happy. People are kind, so
many people are kind. They are nice to her. But they are nice to others too. In
so many years, she didn’t allow herself to labeled someone as a true friend.
Things
happened. “People come and go. There are some
that just gone with the wind. And there are some that stay like a strong branch. A true friend is not someone who
will only be nice to you and put your picture on every social media they have. A
true friend is allow to have another true friend. It’s okay if they put the
same amount of care between you and others. And it’s really okay if they just
think of you the same like their other friends. What is important is that they are
the one who is there for you. They are the one who help you through all the
problems in your life. They are the one who agree to help you whithout asking
why, what, and those many question. You may fight a lot over a little thing. Play rude to each other and act like crazy in the time you met, but at least they are running to each other in sadness and goodness. Indeed that’s a true friend is for. Distance doesn't matter when you trust somebody to let them see your worse condition and your imperfect life".
And
for that, she finally understand it’s okay to say she has a true friend without
being anxious “does she feel the same about my existence?"
“To cherish someone, you don’t need for their
approval. You just cared for them, and that’s enough. and if finally they have to go out of your life, let it be as a good memories”. She is thankful for
everything. for a 100th times, in her sincere hearts, thankyou very much for always be there everytime she needs help.
“Arthur,
pick up the phone!” mother yelled.
“got it!!"
Hello, Maxwell’s here”
1,2,3,4...
“Hi, it’s
me...” the voice i've been missing finally came out.
I mentally
smiled.
“it took
4 summers for you to finally call”
“sorry”
“thought
you forget”
“i am
not. I won’t. I remember everything.”
Summer
of 1994, i was completely addicted in every sense of the words.
This is a
skill I have yet uncover. a skill of
forgetting all those memories.
those
smiles, laughter, the first kiss, the first love,
my first
love.
I am a
messed. A fiasco of my own world.
“Were we
such a mistake?”
“No, we
were not a mistake. I used to said it a lot just to make it more simple. But no,
we were not. You’ve grown up now, Arthur”
“yeah,
the world have been slightly preoccupied with other issues to just think about
us. And it seems that you are too”.
“Arthur..”
“it’s okay. I busied myself with a lot of
things. And i don’t desire you in that sort of way anymore”
Liar,
liar. Pants on fire.
Silence.
Here come again the-stoic-mode of you.
Summer of 1994. The first time that i wished i
could read your mature mind.
To finally
found you amour me too, because we didn’t have much time.
“So, what’s up? Why are you calling?”
“i am
engaged. And will be getting married in the next spring”.
“Congratulation”
the world must’ve proud of me.
“yeah, i
am sorry”
“it’s
okay. so, is your partner a she this time?”
“yeah,
it is a she”
“i hope
you finally be happy, Adrian. The universe won’t be againts you”
Summer
of 1994. Mother said that’s just my-seventeen-years-old raging of hormones begging to be release.
But, How can
you forget your first love?
Summer
of 1994 has ended a long time ago. but let me be the one breathing every scent of
summer breeze with a mix of longing and heartbreak.
Congratulation,
Adrian. The universe finally won’t be againts you.
for the readers, you understand the point of this short story, right? *inshaAllah ada yang baca yaa wkwkwk
"Sebut saja beliau bapak Y. Saat masih kecil, si bapak Y ini pindah rumah mengikuti ayah dan ibunya ke rumah dinas tentara dan otomatis harus pindah sekolah juga. Karena beliau anak pindahan, beliau susah untuk mendapatkan teman di sekolah. Otomatis kebutuhan untuk berkembang di sekolahnya sempat tersendat. Beliau pun menghabiskan waktunya bermain sendiri di rumah.
Seiring berjalannya waktu, ayah dan ibunya sering bertengkar hingga ayahnya memukuli ibunya. Karena ibunya yang tidak berani melawan ayahnya, ibunya melampiaskan kemarahannya ke bapak Y (dalam teori Freud, yang dilakukan ibunya masuk dalam kategori pertahanan ego bagian displacement yaitu melampiaskan ego ke orang lain yang menurutnya tidak akan mengancam bahaya). Karena rumah bukan lagi tempat yang aman baginya, beliau mencari kesenangan lain dengan keluar rumah dan bermain di kompleks rumahnya. Saat itu beliau bertemu dengan teman baru. Ia kembali menemukan kebahagiaan yang sempat redup dan kebutuhan berkembangnya pun tetap berjalan.
Namun, saat beliau mencapai usia 10 tahun, sahabatnya harus pindah dan akhirnya meninggalkannya. Seketika dunia seperti runtuh baginya. Akhirnya, walaupun bapak Y tetap berkembang secara fisik, namun secara mental, perkembangannya berhenti di usia 10 tahun.
Long story short, ia menekan semua kejadian-kejadian masa lalu tersebut ke alam bawah sadar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia masuk ke sekolah tentara dimana ibunya menyuruhnya untuk menjadi tentara seperti ayahnya. Ia kemudian menikah dengan wanita yang dijodohkan ibunya.
Karena bapak Y sering dinas keluar kota, istrinya ternyata selingkuh dengan alasan kesepian ditinggal oleh bapak Y. Mereka kemudian bercerai tanpa mempunyai anak.
Tidak mau terpuruk diusianya yang sudah tua, ia mengumpulkan semangat hidupnya dengan menghabiskan waktu untuk mengajari anak-anak jalanan. Saat mengajari anak-anak inilah, muncul rasa sayang yang menyimpang kepada anak laki-laki yang berusia kurang lebih 10 tahun.
Kedekatan secara emosional ini muncul akibat secara mental perkembangannya berhenti diusia 10 tahun (dimana ia nyaman berinterkasi dan berekspresif di depan anak kecil dan menunjukkan sikap pendiam saat dihadapkan dengan orang dewasa). Ia merasa dekat secara emosional kepada anak berjenis kelamin laki-laki karena sahabatnya berjenis kelamin laki-laki dan akibat traumanya kepada ibunya yang selalu melampiaskan kemarahannya kepada bapak Y, dan trauma kepada istrinya yang berselingkuh. Ia merasa bahwa anak laki-laki yang ia bina mengasihinya sehingga ia melakukan sodomi kepada mereka"
saya tercengang mendengar pak Salis bercerita mengenai kasus Pedhopilia yang senior angkat dalam skripsinya. mungkin untuk sebagian orang, kalo udah bejat yaa semua juga dinafsuin. namun, pandangan psikologis melihat kasus bapak Y (dan kasus-kasus menyimpang yang lain tentunya) tidak terlepas dari kejadian-kejadian di hidupnya. dalam teori Freud dan Gestalt, kasus bapak Y merupakan unfinished business (konflik masa lalu yang belum selesai) yang ia tekan ke alam bawah sadar. Ia tidak sadar bahwa hal-hal yang terjadi di masa lalu seperti ibunya yang abusive dan istrinya yang selingkuh membawa trauma tersendiri yang membuat ia melakukan hal-hal menyimpang.
Semester ini angkatan kami diselipkan mata kuliah baru yaitu Tes Psikologi Lanjut, dimana matkul ini adalah lanjutan dari matkul Tes Psikologi yang mempelajari berbagai macam tes seperti tes kepribadian, bakat minat, dan lain-lain. Saya yang dari SMA sudah sangat tertarik dengan Psikologi Klinis kemudian "pura-pura" membenci psikologi klinis karena matkul Psikologi Kepribadian dapet C+ WKWKWKK dan saat matkul Tes Psikologi sempat trauma karena bu Susan membaca hasil tes kepribadian saya (tes yang menggambar pohon, orang, dan menyambung gambar. most people pasti sudah pernah ikut tes ini) di depan kelas and you know kan yaa diri ini punya berbagai macam perilaku menyimpang :"( and well rasanya seperti ditelanjangi di depan kelas uhuuukkkkk.
Tapi keinginan untuk mendalami Psikologi Klinis kembali muncul saat pak Salis ngajar Tes Psikologi Lanjut. wowww, semua keinginan jaman SMA untuk mengupas lebih dalam individu-individu menyimpang level dewa (such as halusination, Dissacociative identity disorder, schizophrenia, etc) kembali memuncakkkk. Sungguh, setelah bu Priska, dosen favorit saya bertambah satu (yee gimana ga mau bagus ngajarnya, S3nya di London cuyy. eh tapi awalnya mengira pak Salis cuma menang nama doang, ternyata ga boleh suudzon ehehehee).
Dalam matkul Tes Psikologi Lanjut ini, kita akan diajarin tentang TAT (Thematic Apperception Test), Rorsach dan SSCT. untuk sekarang, pak Salis baru ngajar sampe teori dasar TAT.
i know it's probably not the reader's bussiness knowing about this kind of topic wkwk tapi yaaa siapa tahu ada perilaku menyimpang yang bisa kalian diagnosis setelah membaca entry ini wahahahaaa *Pad sok-sokan berguna bagi bangsa.
sebelum masuk ke TAT, kita diajarin dulu teori dasar Proyeksi. Proyeksi itu pelampiasan keluar dorongan-dorongan. konflik-konflik yang sebenarnya milik kita, tapi (mungkin karena malu atau alasan lain) menjadi seolah-olah milik orang lain sebagai mekanisme pertahanan ego.
Inget kan kasus diatas saat ibunya bapak Y dipukulin bapaknya, bukannya balik marah atau mukulin bapaknya, ibunya malah mukulin bapak Y waktu masih kecil. kenapa sih kayak gitu? kalo kata Sigmund Freud sih itu sebagai pertahanan ego ibunya yang pengen melampiaskan kemarahannya tapi takut sama suaminya. makanya dia nyerang bapak Y karena ibunya merasa yaa kalo mukulin anak kecil mah amaann, palingan juga cuma nangis doang si bocah. itu namanya mekanisme pertahanan ego displacement/ pengalihan. mekanisme pertahanan ego ini buanyak banget, saya diajarin dari semester 2 tapi sampe sekarang kagak hapal-hapal wkwkwk padahal hampir setiap manusia paling tidak memakai salah satu atau salah dua mekanisme pertahanan ego di kehidupan sehari-harinya.
Nah, contoh sederhana dari proyeksi ini sebenernya ada di kehidupan sehari-hari. makanya saya bela-belain nulis ini, biar kalian ikut gusar dan cemas kayak saya yang setiap ngelakuin sesuatu pasti langsung mikir "astaghfirullah tadi saya make mekanisme pertahanan ego. atau astaghfirullah, tadi saya kok ngelakuin proyeksi yaa?" wkwkwkwkkk *Pad sungguh jahat
misal nih, ada cewek namanya Rara. Rara ini sebenernya suka sama Beni. tapi karena dia gengsi, setiap ditanyain temen-temennya, dia selalu bilang "ihhh bukan aku yang suka Beni, dia tuhhh yang suka aku". lol, dasar mba kepedean yaakkk.
contoh lain nih, ada cewek namanya Delima. Delima nih ngga suka sama temennya, si Mawar. tapi karena sebenarnya dalam moral dan budaya kita ga boleh kan yaa gampang benci ke orang lain, akhirnya dia menutupi semuanya. setiap ditanya temennya "eh lu kenapa ga bareng Mawar?" nah, dia jawab tuh "kagak sih, cuma kayaknya si Mawar ga suka gua dah. makanya ya udah capek juga gua ngeladenin Mawar". Eaakkkk, napa dah nih logat udah kayak orang Betawi yakkk.
dua contoh diatas itu masih proyeksi ringan (Simple Projection), dimana mereka memutarbalikkan fakta, seolah-olah konflik-konflik itu punya temennya, padalah mah punya dia. Tapi yaa gaboleh dilakuin terus menerus, nanti bisa jadi delusional.
Contoh Proyeksi agak akut (Inverted Projection) tuh kayak gini:
ada cowok sebut saja Doni. Doni nih, sebenernya suka sesama jenis (gay). Kalo dalam teori Freud, kepribadian kita itu ada Id, Ego, dan Superego. Id itu dorongan-dorongan nafsu yang pengen dipuasin (contohnya makan, hubungan seksual, pengen kaya, pokoknya segala jenis keinginan). Ego itu yang bakal nurutin kemauan Id dengan mencari jalan yang se-real mungkin. Nah, superego itu yang nahan-nahan ego kalo ternyata id itu menyimpang. Si Doni kan gay (he is being gay is the Id) , satu-satunya jalan untuk melampiaskan keinginannya adalah punya pacar gay juga (itu egonya) tapi karena gay gak diterima masyarakat, jadilah dia nyembunyiin kalo dia gay (superego). Gituuu...
Lanjut yaa ke masalah Doni. Formasi Proyeksi akut Doni bakal seperti ini:
I Love Him -> I Hate Him -> I "thought" he hates me -> I hate him because he hates me
I love him, tapi karena keinginan (Id) itu gak bisa diterima masyarakat, akhirnya jadi i hate him. walaupun udah merasa lega, tapi tetep aja membenci orang tanpa penjelasan pasti termasuk ga baik di mata masyarakat. akhirnya tanpa sadar Doni mikir i thougt he hates me, "ahh kayaknya dia benci gue deh". Karena pemikiran gak sadar yang dia buat itu, muncullah pemikiran baru i hate him because he hates me, "ahhh gue gak mau maen sama dia, gue gak suka dia karena dia yang duluan gak suka sama gue". gituuu sahabat laptopp wkwkwkk.
Setelah penjelasan dari pak Salis ini, setiap kali saya merasa orang lain kesel sama saya, pasti langsung parno sendiri "astagaa jangan-jangan saya yang ga suka dia, tapi saya memutarbalikkan fakta" wkwkwkk lol.
Contoh kasus Doni itu mengingatkan saya pada teman SD yang memang perangainya kecewe-cewean (Caca tau ini siapa wkwkwkk). sebut saja namanya Indra. Indra nih suka banget main sama cewek, setiap cowok-cowok manggil buat main, dia pasti gak mau. kita (gerombolan cewek) yang bingung dan kesel si Indra ngekor mulu pun nanya "kenapa sih nda mau main sama cowok?" dia langsung jawab kalo cowok-cowok itu suka jahat sama Indra, kalo main selalu kasar dan seolah-olah pengen Indra tuh kalah mulu. Setelah dipikir-pikir lagi, jangan-jangan si Indra (yang emang berperiku gemulai) emang beneran suka sama cowok, tapi karena hal itu ialah perilaku gak wajar, dia pun membenci cowok-cowok di kelas. Tapi karena membenci tanpa alasan itu juga gak baik, jadilah dia mengubah reaksi formasinya menjadi "si cowok-cowok suka jahat ke saya makanya saya gak mau main bareng mereka".
Jadi yaa, sebenernya inti dari entry kali ini cuma mau bagi-bagi ilmu aja sih. atau sebenernya bagi-bagi kecemasan, semoga setelah membaca ini, kalian mulai cemas dan parno sendiri yaa wahahaahhaaa.
Nulis ini juga karena excited, setelah sekian lama pura-pura ga tertarik sama Psikologi Klinis hehehehee.
Mba Novi is indeed really something. she never fails to amaze me. I don't even know where to begin this story *alay
Jadi, pada beberapa hari yang lalu saya ingin nge-chat mba Novi untuk nanya-nanya tentang aplikasi mayor minor yang dia ambil semester kemaren. Kalo emang jodoh yaa gak kemana yakk. di pagi hari, mba Novi-lah yang nge-chat duluan buat nanya kapan dia bisa nganter sertifikat seminar kemaren yang saya ikuti. Saya bilanglah kalo belum tahu bisanya kapan, karena masih ngurus STNK. ehh dia pun bilang..
"iya dekk, soalnya mba udah mau pulang ke Jember. mba mau kabarin ke adek, hari Sabtu mba mau wisuda."
haaa?? disaat saya merasa takjub dengan ka Ratika, ka Wirdha, dan kakak-kakak 2014 lain di instagram yang sudah mau one step closer to wisuda, mba Novi diam-diam merayap, tiba-tiba hari Sabtu (tadi pagi) sudah mau wisuda saja. saya tahu sih, pasti banyak orang diluar sana yang mungkin lebih cepat daripada mba Novi, but i mean feelnya beda lah yaa, secara saya kenal mba Novi walau bukan tingkatan teman dekat, tapi at least saya sebagai penggemar mba Novi ikut kecipratan bangganya wkwk.
Kemudian, rasa kagum ke mba Novi ditambah dengan cerita bu Zahro mengenai dia yang cepet banget nyelesaiin skripsinya. saya sebenernya ngga tahu kalo yang diceritain bu Zahro saat mata kuliah Psikologi Individu Berkebutuhan Khusus itu yaa mba Novi. dengan kagum-kagumnya mendengar cerita bu Zahro, saya dan Jiong saling ngomong "ihh kayak mba Novi yaa, tapi kayaknya yang dicerita bu Zahro lebih hebat". ehhh ternyata sosok inspirasiku toh wkwkk.
Setelah mengunjungi mba Novi di kosannya untuk silaturahmi dan minta tips skripsi beserta tips menghadapi dosen-dosen aplikasi Psikologi, saya pun berjanji untuk dateng ke wisudanya bersama Jiong.
Setelah memesan bunga dengan isian snack dan bungkusin kado sketsa buatnya, saya menghubungi buat mastiin lagi kalo bakal dateng ke wisuda.
Saya sudah pernah bilang kan, kalo setiap tutur kata mba Novi itu kayak ada magnetnya untuk buru-buru pengen jadi wanita soleha wkwkk. dia pun nge-chat saya "iya ade, semoga kita dipertemukan ya sama Allah" iyaa, saya tahu kok arti lain dari kalimat mba Novi itu yaa inshaAllah. But instead of bilang inshaAllah, dia bilang kalimat begitu, kayak liat surga banget kan ngomong sama dia *kalo sudah nge-fans yaaa gini nih wkwk.
Akhirnya pergilah kami ke wisuda mba Novi walaupun telat karena suatu dan lain hal. Mba Novi pun sudah mau pulang karena orangtuanya sudah menunggu di mobil. dengan sangat sedih, kami berfoto ala kadarnya. benar-benar ala kadarnya sampe banyak foto yang goyang wkwkk. ketika mba Novi pamitan, saya melihat mba Novi belum benar-benar pergi ke parkiran, tapi beliau masih ngurusin bunga-bunga dan segala printilan kado untuk dimasukin ke kresek. karena saya merasa masih ada waktu buat say goodbye, kami pun nyamperin dia. Saat mau kearahnya, dia udah selesai dan ngeliat kearah kami sambil nyamperin dan jabat tangan. Dia pun bilang:
"Adee, mba pergi dulu yaa. ohh iyaa, kenalin dulu, ini suami mbaa"
"HAAA!!"
saya kaget, Jiong kaget, tapi saya lebih kaget karena suara "HAA"-ku besar sekali.
Mba Novi is indeed really something. she never fails to amaze me. wowww!!!!
surprise, surprise!! double surprise!
Long story short, ternyata mba Novi memang ga bilang siapa-siapa kalo dia sudah nikah. bahkan teman-teman kuliahnya pun ga ada yang tahu. mereka baru aja tau kemaren-kemaren itupun ga semuanya tahu, alasannya supaya ngga mengganggu kuliah. jadi selama ini, mba Novi sudah ada yang punya woww. kuliah selama bersemester-semester, and no one knows that she's already tie the knot. how romantic and cool and myterious is that???
Dijaman yang penuh akan wadah-wadah untuk nge-share aktivitasmu dari bangun tidur, sampai tidur lagi, mba Novi benar-benar tidak tergoda dengan hal-hal seperti itu. she install and play none of it. dia benar-benar bekerja keras dalam diam, dia benar-benar membangun apa yang ia inginkan dalam diam, dan ketika semua itu berhasil, she lets the success speak itself.
Ga banyak yang tahu gimana proses mba Novi punya banyak prestasi dan banyak menangin lomba-lomba. yang mereka tahu hanya hasil akhir mba Novi. mereka ngga tahu dia dikirim kemana, dia ikut lomba jenis apa. yaudah, gitu aja. tau-tau ada aja dosen yang ngasih tahu mba Novi kemarin menang ini, menang itu, sebagai bahan selingan saat ngajar.
Ga banyak yang tahu kapan dia turun lapang, kapan dia sidang, kapan dia nyelesaiin berbagai macam perintilan-perintilan menuju wisuda. dan yasudah, dari mulut ke mulut sudah banyak tuh yang omongin "ehh tahu gaa, si itu udah wisuda".
she really wants to keep herself as a 90's kid. dimana orang-orang ga perlu tahu gimana bahagiamu, gimana sedihmu. saya ga bilang kalo main sosial media is a really bad thing. karena kalau bukan dari sosial media, kita ga bakal tahu orang-orang seperti Gitasav. kalau bukan dari sosial media, kita juga ga bakal punya motivasi tinggi buat mencapai sesuatu, karena dengan banyaknya orang yang nunjukin prestasinya di platform itu, kita juga pasti akan ikut termotivasi to be a better person, right? *tapi kalau jadi iri-irian dan pamer-pamer hal unfaedah, itu mah lain cerita.
what i really want to said is, betapa kuatnya pertahanan mba Novi untuk tidak terbawa arus permainan sosial media. betapa hati-hatinya mba Novi mengenai sosial media. bisa jadi mba Novi menganggap sosial media itu layaknya drugs. bisa menyembuhkan, tapi kalau dosisnya terlalu banyak, bisa menjerumuskan dan mematikan. ga bisa dipungkiri, sosial media pun begitu. bisa jadi maksud hati ingin memotivasi orang lain, tapi lama kelamaan malah jadi riya dan lain sebagainya . atau bisa jadi saat liat punya orang, selalu suudzon "ihh dia riya banget apa-apa dipamerin* padahal maksud orang lain untuk memotivasi, eh kita suudzon. sukses ngga, dosa iyyaa. *berdasarkan pengalaman pribadi, maklum saya belum kuat iman wkwkwkkk
Dan untuk mba Novi, selamat mendapat gelas S.Psi. semoga ilmu dan berbagai prestasi yang sudah ditorehkan, dapat berguna bagi bangsa dan agama. dan tidak lupa juga, semoga mba dan suami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah,warahmah. diberikan kesuksesan dunia akhirat, dan menjadi jodoh dunia akhirat, aamin allahumma aaminn *walau doanya sudah telat seratus tahun*
Bonus wanita-wanita cantieqq nih:



